Kamis, 09 Februari 2012

Edisi V


Gejolak Ekonomi, Pancaroba Iklim dan Peluang Pasar

Sejumlah pengamat mengingatkan, bahwa situasi global yang tengah berlangsung saat ini harus menjadi perhatian. Bahkan negara berkembang seperti Indonesia perlu memperhatikan penurunan harga komoditas primer serta ancaman krisis pangan, yakni beras.

Banyak pengamat menyatakan, perekonomian Indonesia diperkirakan tetap tumbuh 6,7% pada tahun 2012. Ada pula yang memperhitungkan, bahwa perekonomian hanya akan tumbuh 6,3%. Sementara – seperti dipublikasikan sejumlah mediamassa, pemerintah menyatakan tetap optimis, meskipun kondisi perekonomian dunia sedang lesu akibat krisis yang terjadi di benua Eropa.
Para pelaku usaha kecil pun optimis, bisnis mereka akan bertumbuh pada tahun mendatang seiring dengan keyakinan bahwa perekonomian secara luas akan mempertahankan kuatnya tingkat pertumbuhan tersebut. Demikian kesimpulan dari survei bisnis kecil Asia-Pasifik yang dilakukan oleh CPA Australia pada pada 6 - 11 Oktober lalu di Australia, Hongkong, Indonesia, Malaysia, Selandia Baru dan Singapura.
Sementara di sektor agribisnis, dimana kondisi alam sangat mempengaruhi keberhasilan usaha tani, prospek cerah pun selalu terbentang. Masih menurut beberapa pakar, pertumbuhan ekonomi tertinggi berada di sektor pertanian (termasuk peternakan), kehutanan, dan perikanan (sebesar 5%). Diikuti sektor perdagangan, hotel, dan restoran sebesar 4,4 persen, kemudian sektor pengangkutan dan komunikasi 3,6%.
Melihat perkembangan bulan ke bulan selama 2011, terlihat bahwa pertumbuhan ekonomi triwulan III 2011 tidak berbeda jauh antara triwulan I dan II. Bedanya, sektor pertanian pada triwulan II - 2011 tumbuh 3,7% setelah pada triwulan I – 2011 meningkat 18,3%. Pertumbuhan triwulan II didorong oleh subsektor perkebunan yang tumbuh sebesar 58,9%. Namun –pada penghujung tahun 2011 pertumbuhan ekonomi hanya sekitar 6,3 persen. Lalu bagaimana dengan prospek agribisnis di tahun ini?
Prospek Agribisnis
Memang, ramalan demi ramalan berseliweran di ruang publik. Masing-masing pakar dan pengamat perekonomian memiliki analisis yang beragam.  Namun yang jelas, beberapa kalangan memastikan, bahwa pengaruh gejolak ekonomi global baru akan terasa di Indonesia pada tahun depan. Perkiraan pertumbuhan ekonomi pada 2012 diperkirakan berada pada kisaran 6,3% - 6,7%. Hanya saja, BI mengakui jika terjadi perlambatan ekonomi global, bisa jadi pertumbuhan ekonomi tahun depan hanya sekitar 6,3% - 6,5%. Karena itu, dengan upaya pemerintah (dalam mendorong belanja), mudah-mudahan bisa mencapai 6,7%.
Semua skenario di atas menggunakan asumsi bahwa situasi di Eropa tidak bertambah buruk. Saat ini saja dengan krisis awal negara berkembang mulai merasakan adanya fluktuasi nilai tukar mata uangnya dan perlambatan ekonomi lainnya sebagai dampak dari krisis yang melanda Yunani, Amerika Serikat, dan Uni Eropa. Masih menurut beberapa pengamat, dikatakan bahwa situasi ini harus menjadi perhatian. Negara berkembang seperti Indonesia perlu memperhatikan penurunan harga komoditas primer serta ancaman krisis pangan, yakni beras.

Pasar Ekspor
Selain di dalam negeri, pasar ekspor agribisnis pun masih terbuka lebar bagi petani di Indonesia. Selama ini Indonesia adalah supplier sayuran segar kelima terbesar untuk Singapura setelah Malaysia, Cina, Australia, dan India.
Sejumlah publikasi menunjukkan bahwa pangsa pasar dari sayuran dan buah-buahan masih terbuka di negara-negara yang tidak memilik lahan pertanian yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya seperti Singapura, Jepang, dan Hongkong. Pasar ini cukup menjanjikan bagi para negara pemasok yang berada di sekitarnya.
Berdasarkan data Hongkong Export and Import, jenis sayuran yang diimpor adalah kentang, tomat, kol, brokoli, selada, wortel, ketimun, jamur, asparagus dan bayam. Indonesia berpeluang untuk mengisi pasar sayuran untuk  jenis tomat, kubis, dan wortel.
Untuk pasar agribisnis di Jepang, pemerintah telah mengumumkan “Kesepakatan Kemitraan Ekonomi Indonesia dan Jepang” atau dikenal dengan Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA) pada 28 November lalu.
Menurut data dari Japan Eksports and Imports, Jepang merupakan negara pengimpor sayuran segar dan sayuran beku. Impor terbesar sayuran segar adalah untuk labu kuning, kubis, brokoli dan wartel, sedangkan sayuran beku yang banyak diimpor adalah kentang, green soybenus, jagung manis dan bayam. Sementara berdasarkan data statistik pilihan teratas impor sayuran Singapura, terlihat bahwa mayoritas produk ekspor Indonesia ke Singapura adalah kentang, yakni dengan pangsa pasar 53.3%, kubis 34.8% dan tomat 17.6%.***


Jagung, Manggis dan Itik
Tetap Prospektif di Tahun 2012

Banyak peluang usaha yang selalu terbuka untuk dimulai. tidak hanya berlaku untuk peluang bisnis 2011 ini bahkan bisaberlaku untuk peluang bisnis 2012 dan seterusnya.
Salah-satunya yang prospektif adalah menanam jagung hibrida. Harga komoditas ini relatif stabil karena jagung tidak hanya digunakan sebagai pakan ternak atau konsumsi manusia, namun juga sudah bisa dikonsversi sebagai bahan baku energi. Perubahan fungsi jagung menjadi bahan baku energi membuat jagung semakin dibutuhkan. Alhasil harga naik dan bisa menjadi peluang bagi petani Indonesia untuk masuk ke pasar ekspor dunia.
Untuk buah-buahan, manggis merupakan komoditas yang buyer market, pihak pembeli yang mencari. Sejak beberapa tahun terakhir manggis merupakan primadona ekpor Indonesia, dengan negara tujuan Thailand, Singapura, Hongkong atau Cina, dan Jepang. Di negara-negara tersebut manggis menjadi bagian dari sesaji pada upacara keagamaan. Harga ekspor manggis di pasar dunia bisa mencapai 8 hingga 10 dollar AS perkilogram. Namun di tingkat petani harganya hanya Rp 500,- per kilogram.
Sedangkan di bidang peternakan, agribisnis itik mengalami peningkatan perkembangnan sejak beberapa waktu terakhir. Peluang bisnis unggas air tersebut terdapat di segala lini, mulai dari penetasan, budidaya itik petelur atau bebek potong (pedaging).
Dari tahun ke tahun usaha yang berkaitan dengan itik menunjukkan peningkatan dari sisi permintaan, baik itu berupa telur itik, daging itik, DOD itik, serta itik siap telur, ini berarti usaha pada sektor ini sangatlah menjanjikan.***


 Dari berbagai sumber
 
INDUSTRIALISASI PERTANIAN JALAN MENUJU KEMAKMURAN
Oleh :
Dr. Sinis Munandar, MS*)

Dimensi-dimensi tujuan pembangunan akan dapat memberikan petunjuk mengenai bagaimana cara dan proses dalam mencapai tujuan-tujuan itu. Dalam pengalaman pembangunan selama ini kita dihadapkan pada pilihan pembangunan dari atas atau pembangunan dari bawah. Pilihan kita cenderung pada pembangunan “ dari atas “, dalam cara itu peranan lembaga internasional dan perusahaan-perusahaan asing serta multinasional sangat penting, demikian  pula halnya peranan pemerintah sebagai “agent of change” senantiasa melindungi  dan mempromosikan kekuatan ekonomi dari luar. Selama itu pula kita telah melihat implikasi-implikasinya.
Sebagai alternatif dari cara itu adalah pola pembangunan “dari bawah” yang mengandalkan diri pada “swadaya” masyarakat. Dalam proses ini, maka pembangunan lebih mendasarkan diri pada potensi masyarakat sebagai “sumber energi”. Apalagi masyarakat indonesia yang sebagian besar hidup di pedesaan dan mengandalkan mata pencahariannya dari sektor pertanian. Oleh karena itu pembangunan dibidang ekonomi hendaklah menenpatkan sektor pertanian sebagai prioritas utama yang mampu mengangkat derajat hidup dan martabat bangsa kita.
Dalam pembangunan sektor pertanian, apalagi sektor ini masih cukup besar perannya dalam pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) seharusnya terus ditingkatkan bahkan kegiatan industrialisasi pertanian menjadi pilihan utama.
Industrialisasi pertanian yang akan mengubah produk-produk pertanian dari bahan mentah menjadi bahan setengah jadi atau menjadi bahan jadi, akan memberikan nilai tambah yang berlipat ganda bagi produsen khususnya masyarakat petani. Disinilah peranan pemerintah untuk mendorong, memfasilitasi dan menerapkan regulasi yang berpihak pada masyarakat petani.
Industri pertanian mencakup industri hulu dan industri hilir, industri hulu meliputi industri yang menghasilkan produk-produk untuk meningkatkan produksi pertanian seperti industri pupuk, industri pestisida/ insektisida, industri benih, industri alat mesin pertanian seperti traktor, alat untuk panen dan lain-lain. Sedangkan industri hilir adalah industri prosesing untuk merubah produk bahan mentah hasil pertanian menjadi bahan setengah jadi maupun bahan jadi. Disinilah peran tekhnologi tepat guna sangat dibutuhkan.
Pilihan industri pertanian yang difokuskan pada kegiatan industri hilir utamanya yang mampu memberikan multiplier efek terhadap tenaga kerja, multiplier efek terhadap pendapatan, kaitan dengan sektor lain (linkage) seperti kaitan ke depan (forward linkage) dan kaitan kebelakang (backward linkage). Industri makanan dan minuman, sebagai contoh bagaimana merubah tepung ubi kayu dan sagu menjadi mie instant serta minuman buah kaleng dari produksi buah-buahan akan memberikan nilai tambah yang sangat besar, disamping mendorong diversifikasi pangan.
Industri yang akan kita bangun adalah industri-industri kecil di pedesaan, bukan industri skala besar. Dengan indusrtri- industri kecil di pedesaan maka akan terbentuk pusat-pusat pertumbuhan ekonomi secara menyebar (scattered economic growth pole) hal ini merupakan wujud konsep pembangunan dari bawah. Tumbuhnya industrialisasi pertanian di pedesaan, akan memberikan dampak terhadap kesempatan kerja dan pendapatan bagi masyarakat setempat. Hal ini akan mengurangi urbanisasi penduduk dari desa ke kota bahkan tahap berikutnya akan mengurangi jumlah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dan Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang mencari kerja ke luar negeri. Disamping itu kesenjangan pertumbuhan ekonomi antara kota dan pedesaan tidak semakin lebar.
Apabila industrialisasi pertanian menjadi lokomotif pembangunan dan industri yang lain mendukungnya, maka arah pembangunan Indonesia berbeda dengan arah pembangunan yang telah dicapai oleh negara-negara industri seperti Korea Selatan, Taiwan, Hongkong maupun Singapore yang dikenal sebagai New Industriliazation Country (NIC). Tetapi pembangunan Indonesia akan lebih mengarah pada New Agricultural Industrialized Country (NAIC). Disitulah masyarakat akan menyambut datangnya ratu adil terwujudnya kemakmuran dan kesejahteraan yang gemah ripah loh jinawi. Semua ini diperlukan tekad dan kesungguhan dari semua pihak dan kemauan segera disusunnya suatu desain besar (grand design) untuk dilaksanakan secara nyata.*) Mantan Staf Ahli Menteri 
                                                                                                                                                     Pertanian Bidang Tenaga 
                                                                                                                                                    Kerjadan Alsintan serta 

                                                                                                                                                   Mantan Kepala Badan 
                                                                                                                                                  SDM Departemen Pertanian


 
Surplus Beras 10 Juta Ton

Mungkinkah…?

Mengkonsumsi nasi meningkatkan kasus diabetes di Indonesia. Untuk perlu merubah Image masyarakat bahwa tanpa nasi pun kebutuhan akan nilai gizi dapat terpenuhi dengan baik dan cukup.

“Tidak enak jadi Mentan,” kata Prof. Dr. Ir Bungaran Saragih. Mengapa? Pasalnya, menurut Mantan Menteri Pertanian di Era Gus Dur itu, tugas Menteri Pertanian cukp berat. Salah-satunya adalah karena adanya politisasi pertanian (pangan). Hal tersebut disampaikannya pada sebuah seminar bertajuk “Pencapaian Surplus 10 Juta Ton Beras” di Jakarta, pertengahan Desember lalu.
Hal tersebut diamini oleh Menteri Pertanian, Dr. Ir. Suswono, MMA. Selain sarat politik, untuk mencapai angka 10 jt ton beras memang tidaklah mudah. Meskipun begitu, menurutnya masih dapat diupayakan. Disamping itu pemerintah pun terus berupaya menekan laju pertumbuhan penduduk serta pemasyarakatan diversifikasi pangan. “Sebagai Pembantu Presiden, Mentan tetap menerima pendelegasian tugas dan tanggung jawab Presiden,” jelas Suswono.

Sementara menurut Bungaran, pencapaian peningkatan produksi beras surplus ke angka 10 juta ton di tahun 2014 dan pengurangan import beras, sarat dengan nuansa politik. Dia menilai hal tersebut sangat tidak mungkin. Alasannya, karena untuk mencapai angka demikian dibutuhkan perluasan areal pertanian hingga 4 juta ha.
“Tentu tidaklah mudah untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Karena dalam pembukaan lahan baru akan mendapat protes dari berbagai pihak, termasuk dunia Internasional, karena berdampak pada perambahan hutan,” jelas Bungaran. Lebih jauh menyarankan perlunya sinergi antar stakeholder. “Tugas berat ini tidak semata-mata berada pada tupoksi seorang Menteri Pertanian, tapi memerlukan tugas dari Menteri Koordinator Perekonomian dan Menteri Kesehatan,” tambahnya.
Bungaran menilai, selama ini pemerintah terlalu fokus pada peningkatan produksi beras jasa, padahal meningkatkan produksi itu tidak mudah. Kesalahannya, kata dia, tidak ada kebijakan untuk program diversifikasi pangan. “Selama ini hanya bersifat omongan semata. Akibatnya tak ada resources yang tersedia untuk diversifikasi pangan itu karena tanaman alternatif tidak berkembang. Pemerintah menganggarkan Rp 19 triliun untuk peningkatan produksi beras. Padahal jika kita punya Rp 5 triliun saja untuk diversifikasi, itu akan lebih baik,” tambah Bungaran.
Menurutnya diperlukan sosialisasi untuk merubah mind set masyarakat dalam pengalihan sumber bahan makanan pokok. Tujuannya agar masyarakat tidak semata-mata mengkonsumsi beras (nasi). Ditambahkannya, pemerintah perlu mengkampanyekan bahwa dengan mengkonsumsi nasi berlebihan dapat meningkatkan kadar gula dalam tubuh. Ujung-ujungnya adalah penyakit penyakit diabetes.
Ide Bungaran tersebut diterima oleh Suswono sebagai sebuah masukan. “Ini menjadi inspirasi bagi kami untuk menyampaikannya ke Menteri Kesehatan untuk bersama-sama mensosialisasikan diversifikasi pangan,” tutur Mentan. Menurutnya, konsumsi beras per kapita penduduk Indonesia masih sangat besar. Hasil kajian Kementan dan BPS, konsumsi beras penduduk Indonesia mencapai 113 kg per kapita pertahun.

Sinkronisasi
Dalam upaya pencapaian surplus tersebut sudah dilakukan pengajuan dana tambahan sekitar Rp 1,7 triliun. Menurutnya, dana tambahan tersebut dapat mulai digunakan tahun 2012 ini.
Sebelumnya, seperti ditulis sejumlah mediamassa, Suswono mengeluhkan belum adanya tambahan anggaran untuk program surplus 10 juta ton beras yang diperintahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sejak Februari 2011 itu. Maka Ia pun mengaku kewalahan karena anggaran belum disediakan namun sisa waktu untuk capai surplus tinggal 2 tahun.
Dalam rangka menuju surplus beras 10 juta ton tahun 2014, Kementerian Pertanian telah menerbitkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 45 Tahun 2011 tentang Tata Hubungan Kerja antara Kelembagaan Teknis, Penelitian dan Pengembangan, serta penyuluhan pertanian dalam mendukung peningkatan produksi beras nasional.
Dengan adanya Peraturan Menteri Pertanian tersebut, menurut Suswono, sinkronisasi dan koordinasi program antar instansi akan semakin baik. Kelembagaan penyuluhan, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, tidak akan ada keraguan lagi dalam memobilisasi tenaga penyuluh untuk bekerjasama dengan tenaga teknis di lapangan dalam percepatan pencapaian target produksi dan produktivitas padi.***


 
Meningakatkan Daya Saing Komoditas Pertanian
Oleh : H. Mubardjo.RS, SE, MM


Sungguh memilukan betapa tidak Negara kita yang dikenal sebagai negara agribisnis hampir semua komoditas pertanian melakukan impor komoditas pertanian, diantaranya beras, jagung, gula, kentang, bawang, jeruk, apel dan lain-lain,. Belum termasuk impor gandum yang merupakan bahan baku terigu yang digunakan untuk roti, kue-kue hampir 100% di impor, sehingga tidak sedikit devisa yang dihamburkan untuk mengisi perut kita.
Lebih menyedihkan lagi impor untuk garam dan ikan pada tahun 2011 yang jelas tidak sedikit devisa yang dikeluarkan, padahal negara kita memiliki lautan yang cukup lua. Untuk memenuhi protein hewan agar dimasa depan menciptakan generasi yang sehat, cerdas tidak hanya ikan di impor, tetapi juga daging dan susu.
Kalau dianalisa padsa akhir-akhir ini ternyata selama komoditi pertanian belum siap menghadapi era stabilitas atau perdagangan yang sudah kita setujui. Sebab perdagangan yang sudah diberlakukan di beberapa negara termasuk Indonesia, bahkan di tingkat ASEAN kita sudah melakukan program tersebut sebab mau tidak mau, cepat atau lambat kita harus siap-siap melakukan era globalisasi artinya tidak ada sistem program tarip impor komoditi apapun. Atau boleh dikatakan kita tidak bisa lagi mengharuskan tarip tertentu, kecuali dengan sistem resiko pangan yang berlaku pada konmoditi pertanian.
Mengapa kita belum siap melaksanakan era perdagangan bebas atau globalisasi. Ada beberapa hal yang perlu diamati sebagai penghambat, sehingga komoditas pertanian belum bisa bersaing dengan komoditas impor.diantaranya adanya otonomi daerah yang kebablasan yakni mengenai retribusi kepada komoditi pertanian dan biaya transportasi yang terlalu tinggai dibandingkan dengan negara lain. Juga masalah korupsi yang tidak kunjung habis diberantas baik pusat maupun daerah sehingga menambah biaya produksi.
Tidak kalah pentingnya pemerintah perlu memperhatikan bidang pertanian dengan meningkatkan anggaran pada sektor pertanian selama ini biaya APBN dan APBD lebih banyak dinikmati oleh biaya gaji, perjalanan dinas aparat negara, belanja negara, sedangkan perbaikan jalan dan irigasi perlu ditingkatkan jumlahnya. Bahkan ada sementara pihak yang mengatakan program untuk pertanian sebesar untuk zakat saja.
Oleh karena itu untuk meningkatkan daya saing komoditi pertanian diperlukan beberapa tindakan nyata yang perlu segera dilaksanakan. Sebab jika tidak lekas dilaksanakan maka kita semakin jauh ketinggalan dengan negara lain. Beberapa tindakan untuk meningkatkan daya saing komoditi pertanian adalah sebagai berikut :
1.    Pemberantasan korupsi perlu segera di laksanakan tidak hanya sekedar omong doang (omdo) dan politik pencitraan.
2.    Beberapa retribusi yang dikeluarkan berdasarkan Perda terhadap komoditi pertanian perlu segera tidak diberlakukan atau dihapus.
3. Perhatian pemerintah terhadap pertanian perlu ditingkatkan dengan meningkatkan anggaran pembangunan pertanian, terutama pembuatan sarana dan prasarana perikanan.
4.    Pembiayaan dari perbankan perlu ditingkatkan, kalau perlu dibangun bank khusus memberikan bunga rendah.
5.    Subsidi terhadap petani perlu ditingkatkan khususnya bidang pupuk, benih dan lain-lain.


            TARIF IKLAN TAHUN 2012
  
    FULL COLOUR (FC)
a.     Cover :
-         Halaman Belakang Luar            Rp 10.000.000,-
-         Halaman Belakang Dalam         Rp   7.500.000,-
-         Halaman Depan Dalam              Rp   8.000.000,-

b.     Halaman Dalam (Isi) : 
-         1  Halaman                              Rp   6.000.000,-
-         ½  Halaman                             Rp   4.000.000,-
-         ¼  Halaman                             Rp   2.500.000,-


                         TARIF BERLANGGANAN 
-         1 Tahun (12 Edisi)                    Rp  240.000,-
-         ½  Tahun (6 Edisi)                    Rp  120.000,-
-         3 Bulan (3 edisi)                        Rp    60.000,- 


** Hubungi :
     majalahswadaya@yahoo.com
     denmustp@yahoo.com
     SMS : 088 121 83 614 

 
Sayur & Buah Impor
Virus Terdeteksi, Pintu Masuk Dikurangi

Badan Karantina perketat persyaratan pemasukan produk pertanian. Tempat pemasukan buah dan sayuran segar yang semula 8 tempat pemasukan menjadi 4 tempat pemasukan.

      Badan Karantina Pertanian memang oke. Begitu ancaman terdeteksi, jurus penyelamatan pun dikeluarkan. Tujuannya adalah untuk meminimalkan risiko msuk dan tersebarnya Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) eksotik yang dilaporkan meningkat sejak beberapa waktu terakhir ini. Ancaman itu muncul seiring dengan meningkatnya pemasukan berbagai media pembawa baik berupa produk maupun benih tanaman khususnya hortikultura. 
           Dalam sebuah Konferensi Pers pertengahan Desember lalu Menteri Pertanian Dr. Ir. Suswono, MMA, menyampaikan bahwa pemerintah melalui Badan Karantina Kementerian Pertanian RI melakukan pengetatan persyaratan teknis pemasukan produk Pangan Segar Asal Tumbuhan (PSAT) serta pengetatan tempat pemasukan. Dasar bertindaknya adalah adanya kabar bahwa dalam kurun waktu 2 tahun terakhir. Beberapa komoditas pangan dan hortikultura dilaporkan telah tercemar OPTK eksotik.Beberapa OPTK eksotik tersebut antara lain Panthoea stewartii, Aphelenchoides fragariae, Psedomonas capsici. Selain itu ditemukan juga OPTK baru yang belum terdaftar di Paraturan Menteri Pertanian No. 38 tahun 2006 yakni penyakit virus yang disebabkan oleh Tomato infectius Chlorosis Crinivirus (TICCV). “OPTK tersebut memiliki daya rusak yang tinggi terhadap komoditas strategis pertanian kita,” kata Suswono. 
              Dengan pertimbangan tersebut, Badan Karantina Pertanian telah melakukan review terhadap beberapa tempat pemasukan produk pertanian. Salah-satunya ditengarai tingginya arus lalu lintas dan/ atau kekurangan SDM. Solusinya adalah terbitnya beberapa Peraturan Menteri Pertanian yang baru demi optimalnya pelaksanaan pengawasan dan tindakan karantina tumbuhan. Beberapa perubahan pengaturan terkait dengan terbitnya peraturan Menteri yang baru antara lain Peraturan Menteri No 88/Permentan/PP.340/12/2011 tentang Pengawasan Keamanan Pangan terhadap Pemasukan dan Pengeluaran Pangan Segar Asal Tumbuhan. Permentan ini merupakan pengganti Permentan No. 27 jo 38 tahun 2009 tentang Pengawasan Keamanan Pangan terhadap Pemasukan dan Pengeluaran Pangan Segar Asal Tumbuhan. 
               Dalam Permentan tersebut terdapat berbagai perubahan substansi ketentuan yang antara lain menyatakan bahwa dari 39 Jenis PSAT (sebelumnya) ditambah menjadi 100 jenis PSAT yang diawasi pemasukannya, baik pada komoditas hortikutura, tanaman pangan maupun perkebunan. Target cemaran meliputi cemaran kimia, logam beraat, aflatoksin dan mikroorganisme (salmonella) serta bahan kimia lain yang dilarang dalam penggunaannya, yaitu formalin. 
             Sedangkan pada Peraturan Menteri Pertanian No 89/Permentan/OT.140/12/2011 merupakan perubahan dari Peraturan Menteri Pertanian Nomor 37/Kpts/HK.060/l/2006 tentang Persyaratan Teknis dan Tindakan Karantina Tumbuhan Untuk Pemasukan Buah-Buahan dan/atau Sayuran Segar ke Dalam Wilayah Negara Republik Indonesia. Perubahan substansi ketentuannya meliputi tempat pemasukan buah dan sayuran segar yang semula 8 tempat pemasukan menjadi 4 tempat pemasukan. 
           Sementara ketentuan yang lain dalam Permentan 37 tahun 2006 antara lain tentang Pengaturan terhadap 42 jenis buah dan sayuran segar dengan target utama cegah tangkal terhadap berbagai lalat buah berbahaya ke dalam Republik Indonesia dan kewajiban menggunakan container berpendingin dalam suhu tertentu, masih tetap berlaku. 
            Selanjutnya adalah Peraturan Menteri Pertanian No.90/Permentan/OT.140/12/2011. Permentan ini berisi Perubahan Atas Peraturan Menteri Pertanian No.18/Permentan/OT.140.2/2008  tentang Persyaratan Tindakan Karantina Tumbuhan untuk Pemasukan Hasil Tumbuhan Hidup Berupa Sayuran Umbi Lapis Segar Ke Dalam Wilayah Negara Republik Indonesia. Substansi perubahan pada ketentuan tersebut adalah soal tempat pemasukan Hasil Tumbuhan Hidup Berupa Sayuran Umbi Lapis Segar yang semula 14 tempat pemasukan menjadi 4 tempat pemasukan. 
                Sedangkan ketentuan yang lain masih tetap berlaku, diantaranya ketentuan pemasukan bawang merah, bawang Bombay, bawang putih dan bawang daun serta pemenuhan persyaratan teknis bagi pemasukan umbi lapis segar ke dalam wilayah RI harus didevitalisasi, diberi perlakuan, dan bebas dari tanah dan kompos lainnya.

Empat Pelabuhan 
Didampingi Kepala Badan Karantina Pertanian, Ir. Banun Harpini, MSc, Mentan menjelaskan bahwa peraturan yang baru terbit itu akan berlaku efektif tiga bulan ke depan. Dengan diberlakukannya peraturan baru tersebut, maka tempat pemasukan buah-buahan dan sayuran segar serta umbi lapis yang hidup hanya dapat dilakukan melalui Pelabuhan Belawan (Sumut), Bandara Soekarno Hatta (Tangerang), Pelabuhan Makassar (Sulawesi Selatan) dan Pelabuhan Tanjung Perak (Surabaya).


Tidak hanya sebatas peraturan, Badan Karantina Pertanian pun telah menyiapkan upaya-upaya peningkatan pelayanan dan kapasitas yang diperluakan pada keempat pemasukan tersebut melalui penambahan SDM, PPC, dan berbagai peralatan laboratorium yang diperlukan.

Namun demikian, Mentan menjelaskan, bahwa pemerintah melalui Kementerian Pertanian akan terus berupaya meningkatkan produksi hortikultura, melalui peningkatan produktivitas dan mutu serta penataan data produksi dan konsumsi untuk memenuhi kebutuhan dan selera konsumen di dalam negeri.***

1 komentar:

  1. sudah seharusnya agrobisnis menjadi role perekonomian di indonesia, karena lahan yang tersedia sangat memungkinkan, tinggal maslah teknisnya terus dikembangkan, penelitian dan pengembangan produk-produk unggulan pertanian harus terus digalakkan, terimakasih
    http://jetkul.blogspot.com/

    BalasHapus